Andai Kau Memahami Cinta*

oleh : Rahmi Damay

“Sekalipun cinta telah kuuraikan dan kujelaskan panjang lebar, namun jika cinta kudatangi, aku jadi malu pada keteranganku sendiri. Meskipun lidahku telah mampu menguraikan, namun tanpa lidah, cinta ternyata lebih terang, 
sementara pena begitu tergesa-gesa menuliskan.
Kata-kata pecah berkeping-keping, begitu sampai pada cinta.
Dalam menguraikan cinta, Akal terbaring tak berdaya, bagaikan keledai berbaring dalam lumpur. Cinta sendirilah yang menerangkan cinta”
(Ana Althafunnisa dalam Film Ketika Cinta Bertasbih)

            Berbicara mengenai cinta, memang tak ada habisnya. Banyak buku dan tulisan bertemakan cinta yang mengupas cinta dari berbagai sudut pandang. Disadari atau tidak, ‘cinta’ menjadi hal yang menarik dibicarakan oleh berbagai kalangan, dari mulai anak usia sekolah hingga lansia. Sejatinya, cinta tak mengenal umur dan golongan. Seperti seorang bayi yang baru dilahirkan ke dunia, langsung mendapatkan cinta dari sentuhan dan kehangatan sang ibu. Begitulah cinta, tidak bisa dipungkiri, bahwa ‘cinta’ menjadi ‘sesuatu’ yang tak asing lagi bagi manusia.
            Cinta. Andai disadari, ia mengajarkan berjuta makna. Banyak kisah menarik yang memberikan pelajaran berharga bagi kita. Salah satunya, ketika cinta menjadi istimewa, karena ia didasari oleh keimanan yang menghujam. Inilah akhlak mengagumkan sang kekasih Allah: Rasulullah SAW yang mungkin sudah tak asing lagi bagi kita ketika menyimak dalam shirahnya. Sudah melekat dengan keseharian beliau, cacian dan hujatan para pembenci kebenaran. Maka Rasulullah selalu membalas air tuba dengan air susu. Cukup banyak kaum kafir yang menjadi saksi atas kemuliaan cinta baginda Rasulullah SAW. Seperti kesaksian seorang musafir tunanetra yang mengubah kebenciannya pada Rasul menjadi kecintaan yang sangat mendalam. Bayangkan saja, sang musafir setiap hari tak henti-hentinya mengumpat Rasulullah SAW, padahal ia sendiri tidak tahu peringai Rasul yang sebenarnya seperti apa,ia hanya menjustifikasi dari apa yang dibicarakan orang-orang kafir (kaum sebangsanya). Suatu hari Rasul melewati jalan dimana tempat musafir itu berada. Didapatinya ucapan musafir yang tak henti-hentinya mencaci maki Rasul. Rasul pun membalas tingkah laku sang musafir dengan senyuman penuh makna. Rasa cinta dan kasih sayangnya mengalir melalui tindakan nyatanya. Apa yang baginda lakukan…? Dengan lemah lembut baginda Rasul memberikan suap demi suap makanan yang sebelumnya dilembutkan dulu oleh mulut sucinya. Mengingat sang musafir seorang tunanetra, maka ia tidak mengetahui sosok yang sedang menyuapinya. Berhari-hari Rasul memperlakukan sang musafir dengan perilaku yang istimewa tersebut. Sehingga suatu hari, ketika tiba saatnya baginda Rasul harus menghadap Allah, sang musafir bertanya-tanya kemana sosok yang selama ini selalu setia memberikan pelayanan terbaik kepada dirinya layaknya seorang pembantu melayani raja. Sang musafir sangat merasakan kehilangan sosok tersebut, yang menurutnya adalah sosok yang paling mengagumkan. Beberapa hari kemudian, Abu Bakar sebagai khalifah pertama setelah wafatnya Rasul, mencoba kembali menunaikan amalan yang rutin dilaksankan Rasul. Sebelum makanan sampai di kerongkongan sang musafir, ada hal berbeda yang dirasakan oleh musafir. Dengan sangat lugas ia menyatakan bahwa yang menyuapinya pada saat itu bukanlah sosok yang biasa menyuapinya di hari-hari sebelumnya. Perbedaan itu dirasakannya ketika makanan yang disuapkan ke mulutnya masih kasar dan tidak halus. Sang khalifah pun tak kuasa menahan tangis dan menyatakan kebenaran yang sesungguhnya. Abu Bakar menyatakan kesaksiannya bahwa sosok yang setia memberikan pelayanan terbaik kepada sang musafir tak lain adalah orang yang selama ini dibenci oleh musafir itu sendiri, ialah Rasulullah SAW teladan mulia sepanjang jaman yang telah kembali ke sisi terbaik-Nya. Mendengar kesaksian Abu Bakar, sang musafir membuncahkan emosinya dengan duka dan penyesalan yang mendalam. Bersamaan itu pula, sang musafir meyakini bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad utusan Allah. Cinta Rasul tiada batas, tak mengenal ras dan status sosial. Meneladaninya adalah keindahan beramal. Melalui seni cinta yang nyata tercipta dalam setiap kata dan aksi nyata.
            Dalam Q.S. Al-Hujuraat ayat 7 dengan sangat gamblang dijelaskan oleh Allah bahwa cinta kepada keimanan berbuah perasaan tentram dan indah dalam qalbu. “Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu 'cinta' kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.” Maka, semakin jelaslah bahwa Rasul yang mulia adalah kekasih Allah yang tiada bandingannya. Cinta yang ia persembahkan untuk ummatnya, bersumber dari kemurnian hati dan keimanan tertinggi. Kerendahan hati dan kemuliaan akhlaknya bukan karena proses instan atau anugerah ke-ma’sum-annya menjadi nabi, tapi karena Rasul banyak menyelami dan membangun kedekatan yang sangat baik dengan Allah.
“Itulah tingkatan cinta tertinggi, yaitu cinta yang maha luar biasa. Pasalnya, cinta manusia kepada Allah adalah sumber dasar dari semua cinta luar biasa kepada yang lainnya. Barangsiapa yang mencintai Allah, maka ia akan mencintai semua yang mendekati-Nya. Sesungguhnya cinta manusia kepada Allah akan mampu mengarahkan perilakunya menuju kebaikan dan keridhaan-Nya…” (Kurniawan 2009)
Kecintaan, ketaatan, dan penghambaan Rasul pada Allah yang Maha Menciptakan tidak hanya terfokus pada aspek habluminallah saja. Dalam kisah yang telah dipaparkan sebelumnya, Rasul pun terbukti dapat membina hubungan yang baik dengan sesamanya. Hal ini membuktikan bahwa kesimbangan cinta yang diberikan Rasul baik dalam amalan habluminallah maupun habluminannas dapat diterapkan secara seimbang. Namun, apa yang menjadi kunci dari kedua hubungan tersebut…? ialah cinta yang dibangun dan dilandasi karena Allah.
“Dengan demikian, maka tak dapat dibenarkan membentangkan dinding pembatas antara cinta kepada anak-isteri dan cinta kepada-Nya. Sebab, antara anak-isteri dan Allah sebagai Sang Pencipta, sangatlah tidak berbanding jika kedua hal tersebut dipertentangkan. Apalagi tak mungkin antara keduanya menjadi saling ‘cemburu’, lantaran pembagian cinta yang tak berimbang. Allah itu Sang Pencipta semesta raya, termasuk di dalamnya adalah manusia. Ketika seseorang mencintai ciptaan-Nya, maka berarti pula ia telah memfungsikan cinta-Nya. Begitupun dengan mereka yang tak mencintai makhluk-Nya, maka sama saja bahwa dirinya telah menyia-nyiakan cinta-Nya.”
(Enha 2009)
            Inilah yang kita kenal dengan sebutan ‘cinta karena Allah’. Segalanya bermula dari niat yang ikhlas hanya karena Allah semata: Allah yang memerintahkan dan Allah pun menyukainya. Begitupula dengan ‘benci karena Allah’. Bukan dilandasi benci karena nafsu, tapi dikarenakan Allah pun membenci sesuatu tersebut atau Allah membenci suatu perbuatan yang diperintahkan Allah untuk menjauhinya. Seperti ketika kita mencintai orang tua karena Allah. Bagaimana cara meyakinkan diri bahwa kita mencintai orang tua karena Allah?. Melalui konsep di atas tadi, maka terjawab, bahwa Allah-lah yang memerintahkan kita untuk mencintai orang tua, Allah pun menyukai hamba-Nya yang berbakti pada orang tua. Alasan kita tidak keluar dari kata “karena Allah yang…”  Itulah makna mendalam dari cinta yang hakiki. Dalam QS.Al Imran ayat 31 disebutkan Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Nada selaras dituturkan dalam sebuah hadits: “Ya Allah, aku memohon cinta-Mu, cinta orang-orang yang mencintai-Mu, dan cinta kepada amalan-amalan yang bisa mendatangkan cinta-Mu” (HR.Tirmidzi).
            Bercermin dari apa yang telah diuraikan dalam beberapa paragraf sebelumnya, maka andai kita memahami makna keagungan cinta yang sesungguhnya, kita akan menjauh dari cinta bernafsu yang kan luput ditelan waktu, kita pun tak kan ragu untuk saling mencintai hanya karena Allah, dan kita akan berlomba-lomba untuk meraih cinta pemuncak dalam kesempurnaan penghambaan kita kepada Allah.
Bersamaan dengan itu, dalam permulaan tahun hijriyah ini, betapa mulianya kita ketika jiwa terbenahi dengan kedalaman cinta pada Sang Pemilik Cinta. Kesegaran cinta akan semakin terasa, karena jiwa yang baru memiliki misi baru untuk melebarkan ruang hatinya dan memenuhinya dengan cinta utama nan mulia: cinta Ilahi semata.

“Cinta. Atas dasarnyalah, kita semua ada. Atas dasarnyalah kita, diciptakan. Cinta jugalah yang mendasari setiap kebaikan yang dipancarkan oleh hati, dilakukan oleh raga, dan yang diimani oleh jiwa. Hal itu yang disebabkan cinta merupakan kebutuhan abadi makhluk semesta raya.”
(Tsuraya, 2011)


DAFTAR PUSTAKA
Enha, Ilung S. 2009. My God My Love. Jakarta: PT.Mizan Publika.
Kurniawan, Harlis. 2009. Revolusi Cinta. Depok: Lingkar Pena Kreativa
     Tsuraya, Deasy Lyna. 2011. Sederhanannya Cinta. Jakarta: Indie Publishing.

*essay ini masih tahap penilaian panitia sebuah lomba---mohon doanya ^_^

Komentar