Kami menyambut dengan gegap gempita.
Ya! kamilah mahasiswa-mahasiswi IPB yang berduyun-duyun mengantri untuk menyaksikan runtuyan para wisudawan dan wisudawati IPB yang telah mendapatkan surat talak dari IPB. Sudah bisa kita bayangkan, suatu kebahagiaan dan kebanggaan tersendiri ketika toga itu kita raih. Bukan hanya predikat sarjana tapi predikat alumni pun melekat pada saat itu. Terharu.....?? ya mungkin juga. Bingung......?? ya mungkin juga. Bahagia..........?? sangat mungkin.
Tapi, yang terpenting dari semua kegalauan yang dirasakan pada saat itu adalah mau kemana kita setelah lulus nanti??? berapa lama kita menjadi pengangguran??? ataukah rezki pekerjaan langsung menghampiri kita tanpa kita sendiri yang ,menjemputnya??
Lagi-lagi saya melamun pada saat itu. Mungkin di saat hari itu tiba, entah bagaimana kondisi saya pada saat itu. Sudah siapkah menjadi lulusan terbaik IPB?? Walau predikat itu tidak harus selalu tersurat dalam sehelai kertas?? sudah siapkah saya mengamalkan ilmu yang telah saya teguk selama masa perjuangan di IPB?? Huft!!! rasanya saya ingin menangis saja....merasa belum siap dengan hari itu. Tapi, bukankah Allah melapangkan waktu seluas-luasnya?? sehingga untaian kata SAYA TIDAK SIAP kan berubah menjadi SAYA HARUS SELALU SIAP. Innallaha ma'ana
Ya! kamilah mahasiswa-mahasiswi IPB yang berduyun-duyun mengantri untuk menyaksikan runtuyan para wisudawan dan wisudawati IPB yang telah mendapatkan surat talak dari IPB. Sudah bisa kita bayangkan, suatu kebahagiaan dan kebanggaan tersendiri ketika toga itu kita raih. Bukan hanya predikat sarjana tapi predikat alumni pun melekat pada saat itu. Terharu.....?? ya mungkin juga. Bingung......?? ya mungkin juga. Bahagia..........?? sangat mungkin.
Tapi, yang terpenting dari semua kegalauan yang dirasakan pada saat itu adalah mau kemana kita setelah lulus nanti??? berapa lama kita menjadi pengangguran??? ataukah rezki pekerjaan langsung menghampiri kita tanpa kita sendiri yang ,menjemputnya??
Lagi-lagi saya melamun pada saat itu. Mungkin di saat hari itu tiba, entah bagaimana kondisi saya pada saat itu. Sudah siapkah menjadi lulusan terbaik IPB?? Walau predikat itu tidak harus selalu tersurat dalam sehelai kertas?? sudah siapkah saya mengamalkan ilmu yang telah saya teguk selama masa perjuangan di IPB?? Huft!!! rasanya saya ingin menangis saja....merasa belum siap dengan hari itu. Tapi, bukankah Allah melapangkan waktu seluas-luasnya?? sehingga untaian kata SAYA TIDAK SIAP kan berubah menjadi SAYA HARUS SELALU SIAP. Innallaha ma'ana

Komentar
Posting Komentar